Pages

Subscribe:

Blogroll

Labels

Rabu, 07 Desember 2011

MEMILIH LOKASI PERKEBUNAN LADA




Seorang pengusaha, dengan sangat bersemangat melakukan investasi perkebunan lada di Jawa Timur. Skalanya memang hanya puluhan hektar, tetapi lada memerlukan tiang panjatan berupa beton, kayu ulin hingga biaya investasinya tinggi. Panjatan dari tanaman hidup seperti lamtoro, dadap atau gamal memang lebih murah. Namun kayu hidup ini akan berebut nutrisi, air dan sinar matahari dengan tanaman lada. Akibatnya hasil lada tidak optimal. Hingga panjatan yang paling pas adalah beton atau kayu ulin yang sama-sama mahal. Nilai tiang beton atau kayu ulin 10 X 10 cm sepanjang 2,5 sampai 3 m, per batang sudah sekitar Rp 30.000,- Dengan populasi 1.500 tanaman per hektar (jarak tanam 2 X 3 m), maka investasi untuk tiang panjatan sudah mencapai Rp 45.000.000,- per hektar. Benih Rp 7.500.000,- Pembukaan lahan dan penanaman sekitar Rp 2.500.000,- Hingga total biaya investasi untuk pembukaan kebun lada itu sudah mencapai Rp 55.000.000,- per hektarnya. Dengan luas lahan 20 hektar, maka nilai investasinya menjadi Rp 1,1 milyar. Pengusaha tadi kecewa barat karena ternyata tanaman ladanya tidak bisa tumbuh dengan baik.

Lada memang menghendaki kawasan dengan agroklimat khusus. Curah hujan yang diharapkannya tidak terlalu tinggi. Cukup sekitar 3.000 mm. per tahun. Bahkan agak kurang pun tidak menjadi soal. Hanya saja, hujan tersebut diharapkan turun merata sepanjang tahun. Sentra lada seperti Lampung, Sumsel, Bengkulu, Bangka, Belitung, Kalbar dan Kaltim adalah kawasan dengan agroklimat demikian. Di kawasan dengan agroklimat demikian ini, tanaman lada akan bisa tumbuh optimal. Hasilnya pun juga akan optimal pula. Curah hujan di Pulau Jawa pada umumnya, tidak berlangsung marata sepanjang tahun. Bahkan di kawasan Bogor yang dikenal sebagai "kota hujan" pun, curah hujan itu tidak merata. Di kawasan ini curah hujannya mencapai 5.000 mm. per tahun. Tetapi tetap ada musim kemaraunya. Lebih-lebih di Jawa Timur. Di sini, curah hujan yang tinggi hanya terjadi di sekitar Malang, Lumajang, Jember dan Banyuwangi. Itu pun hanya sekitar 3.000 mm. per tahun. Di sepanjang pantai utara dari Bojonegoro sampai Situbondo serta di Pacitan, Trenggalek dan Blitar selatan, curah hujannya hanya sekitar 2.000 mm. per tahun. Kemarau di kawasan ini bisa berlangsung sekitar 5 bulan lebih. Kondisi agroklimat demikian tidak cocok untuk lada.

Lada merupakan tanaman dataran rendah sampai menengah (0 sampai dengan 600 m. dpl). Lahan yang cocok untuk lada berupa tanah berpasir serta lempung yang kaya humus (bahan organik), dengan pH netral. Lada kurang cocok dikembangkan di lahan-lahan bergambut yang masam. Lahan-lahan bekas tebangan hutan atau ladang sangat cocok untuk kebun lada. Sebagai tanaman tropis, lada menghendaki air banyak, namun akarnya tidak tahan genangan. Penanaman lada pada lahan bertanah lempung, sebaiknya disertai dengan sarana drainase (pembuangan air) yang baik. Untuk mencapai pertumbuhan optimal, lada memerlukan sinar matahari penuh selama 12 jam per hari. Karenanya, penanaman lada dengan tiang panjatan berupa pohon hidup akan sangat berpengaruh terhadap hasil panen.

Selain faktor agroklimat, lokasi perkebunan lada juga harus dipilih yang berdekatan dengan sungai yang mengalir dengan debit cukup besar. Keberadaan sungai ini menjadi penting apabila kita ingin memproduksi lada putih. Bukan lada hitam. Masyarakat awam, biasanya menganggap bahwa lada putih dan lada hitam berasal dari jenis tanaman lada yang berlainan. Padahal tanaman lada (Piper nigrum) hanya satu. Tanaman asli India ini telah masuk ke kepulauan Nusantara sekitar abad I sebelum Masehi. Hingga bagi masyarakat Sumatera, Bangka dan Belitung, lada sudah dianggap sebagai tanaman asli setempat. Tanaman merambat ini berbuah buni yang berwarna hijau ketika masih mentah dan berubah menjadi kuning serta merah ketika masak. Kalau lada dipetik ketika muda (masak susu) dan langsung dijemur, maka akan didapat lada hitam. Tingkat kaharuman lada hitam lebih tinggi dibanding lada putih. Namun tingkat kepedasannya lebih rendah. Karenanya lada hitam cocok untuk digerus kasar dan ditaburkan dalam steak. Masyarakat Amerika, cenderung lebih menyukai lada hitam. Sementara masyarakat Eropa pada umumnya lebih senang dengan lada putih.

Apabila lada dipanen setelah masak dan berwarna kuning serta merah, akan diperoleh lada putih. Untuk itu, diperlukan proses perendaman dalam air yang mengalir. Caranya, lada dimasukkan ke dalam karung dan diikat, selanjutnya direndam dalam air sungai yang mengalir. Apabila perendaman dilakukan dalam air yang menggenang, maka akan timbul bau yang tidak sedap. Setelah direndam selama sekitar 1 minggu, kulit buah lada akan membusuk dan hancur. Pada saat itu biji lada diinjak-injak sambil terus diairi sampai biji lada terkupas dari kulit dan daging buahnya. Setelah bersih, biji lada tersebut dijemur sampai kering hingga dihasilkan biji lada putih. Kalau kita berkebun lada di lokasi yang tidak ada sungainya, maka yang akan kita hasilkan hanyalah lada hitam. Bukan lada putih. Pada umumnya harga lada hitam lebih murah dibanding lada putih. Petani yang cerdik, biasanya akan melakukan penjarangan buah. Buah-buah yang mutunya kurang bagus, akan dipanen muda dan langsung dijemur menjadi lada hitam. Dengan melakukan penjarangan demikian, mutu biji lada yang dipanen tua akan menjadi semakin baik.

Seperti halnya dengan cengkeh, pala dan kayu manis, lada merupakan rempah-rempah yang sudah menjadi mata dagangan penting di dunia sejak ribuan tahun silam. Pemanfaatan lada tidak hanya untuk bumbu melainkan juga parfum. Sebab biji lada selain menghasilkan rasa pedas berupa zat kavisin, juga mengandung minyak asiri serta alkaloid paparin serta piperidin. Dua zat terakhir ini merupakan bahan pembuatan heliotropin sintetis. Secara tradisional, pemanfaatan lada sebagai bumbu hanyalah dengan dihancurkan. Tetapi dalam industri makanan modern, misalnya sosis, corned dan daging asap, lada, pala, cengkeh dan lain-lain bumbu tidak digiling lalu dicampurkan begitu saja. Sebab dengan cara itu, standar rasa yang diharapkan tidak akan tercapai. Dalam industri modern, bumbu apa pun, termasuk lada digunakan dalam bentuk oleoresin. Produk ini merupakan cairan pekat. Biasanya berwarna kecokelatan. Yang lazim dibuat oleoresin adalah lada hitam. Sebab tingkat keharuman lada hitam lebih tinggi dibanding lada putih. Tetapi kalau yang diharapkan adalah rasa pedasnya, maka oleoresin dihasilkan dari lada putih.

Proses awal pembuatan minyak asiri maupun oleoresin lada sama, yakni dengan penghancuran (penggilingan) biji lada. Dalam pembuatan minyak asiri, bubuk lada itu didestilasi (disuling) hingga didapat minyak lada. Pada pembuatan oleoresin, bubuk lada itu diekstrak dengan bahan pelarut. Setelah itu, dilakukan pemisahan (pemurnian) zat aktif lada dari bahan pelarutnya. Penghasil oleoresin lada terbesar dan sekaligus terbaik di dunia adalah Perancis dan India. Di Indonesia baru tercatat beberapa perusahaan yang mampu membuat oreoresin lada. Antara lain P.T. Djasula Wangi dan Indesso. Meskipun dibanding dengan produk oleoresin lada dari India, produk lokal kita masih kalah jauh. Pemerintah Provinsi dan Kabupaten penghasil lada, mestinya mulai memikirkan sebuah agroindustri terpadu. Sementara kawasan dengan agroklimat potensial, mulai merancang sebuah agribisnis lada yang lebih serius. Kendala utama berupa tingginya biaya tiang rambatan, dewasa ini sudah bisa diatasi dengan adanya klon lada perdu. Beda dengan lada biasa, maka lada perdu akan tumbuh menyemak berupa perdu hingga tidak memerlukan tiang panjatan. Selain lebih murah biaya investasinya, pemanenan lada perdu juga lebih mudah. Sebab ketinggian lada ini hanyalah sekitar 0,5 sampai dengan 1 meter. Sementara ketinggian lada dengan tiang rambatan mencapai 2 meter.
Benih lada biasa maupun lada perdu berasal dari stek. Bahan stek bisa berupa batang pokok yang dilepas dari tiang panjatan dan dibiarkan dipermukaan tanah untuk dikerat (tidak sampai putus) sepanjang masing-masing sebanyak tujuh ruas (1 m). Keratan itu sebagian ditimbun tanah, sebagian dibiarkan di permukaan. Selang satu bulan, masing-masing stek akan menumbuhkan akar dan tunas baru. Selain itu stek juga bisa diambil dari cabang vertikal (ortotrop) yang masih melekat pada tiang panjatan. Stek cabang ortotrop yang sudah menggelantung, mutunya kurang baik. Cabang horisontal (plagiotrop) tempat keluarnya buah, tidak bisa dijadikan bahan stek. Selain stek tujuh ruas sekarang banyak juga dibuat benih dari stek satu ruas (satu daun). Benih berupa stek lazimnya disemai terlebih dahulu sebelum ditanam di polybag (kantung plastik) atau di lapangan. Dewasa ini banyak dijual benih lada dalam polybag yang sudah siap tanam. Harganya bervariasi antara Rp 2.000,- sampai dengan Rp 5.000,- tergantung ketinggian tanaman dan ukuran polybag. Biasanya para penangkar tidak memiliki stok benih dalam jumlah banyak. Hingga para calon pekebun yang memerlukan benih sampai puluhan atau ratusan ribu, harus memesan terlebih dahulu.

Tiap individu tanaman lada, memerlukan pupuk organik (pupuk kandang, kompos, guano) sekitar 10 kg per tahun. Dosis itu diberikan sebanyak 4 kali. Pupuk organik ini seringkali diganti oleh petani dengan tanah bakaran dengan dosis sama untuk menurunkan menaikkan pH tanah. Pupuk anorganiknya biasa digunakan NPK dengan dosis 0,5 kg per individu tanaman. Pemberiannya bisa bersamaan dengan pupuk organik sebanyak 4 kali dalam setahun. Penyakit lada yang paling berbahaya adalah akibat serangan nematoda pada akar dan cendawan pythoptora pada pangkal batang. Hama yang paling banyak mengganggu lada antara lain kumbang Lophobaris piperis. Kalau lokasi kebun lada beragroklimat cocok, dengan perawatan tanaman yang baik, hasil panen akan mencapai 7,5 sampai dengan 1,25 kg. lada putih kering per individu tanaman. Dengan populasi 2.000 tanaman per hektar maka hasilnya 1,5 sampai 2,5 ton per hektar per tahun. Kalau harga lada Rp 20.000,- per kg, maka pendapatan kotor petani akan berkisar antara Rp 30.000.000,- sampai dengan Rp 50.000.000,- per hektar kebun per tahun. Tetapi dalam praktek, petani sulit untuk memperoleh harga standar tersebut. Sebab rantai perdagangan lada demikian panjangnya. Bahkan selama ini eksportir kita masih sulit untuk berhubungan dengan pembeli luar negeri secara langsung. Sebab semua harus melalui Singapura. (F.R.) ***

Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Pemkab Kukar Fadli Ardin mengatakan, sangat banyak komoditas perkebunan yang belum digarap maksimal di Kukar. Salah satunya adalah tanaman karet (Hevea brasiliensis).padahal jika karet dikembangkan, komoditi ini akan menjadi sangat diunggulkan.

Apalagi, sejalan dengan perkembangan dunia otomotif, permintaan bahan baku karet pun terus meningkat tiap tahunnya. “Sampai sekarang wilayah Kukar baru menghasilkan produk getah karet, sebagian besar dikelola oleh rakyat dan sebagian kecil saja yang dikelola oleh perusahaan Perkebunan Besar Swasta (PBS),” kata Fadli Ardin baru-baru ini di Tenggarong.

Menurut dia, jumlah penduduk Kukar 2007 adalah 550.027 jiwa. Pola penyebaran penduduk sebagian besar mengikuti pola transportasi yang dilalui Sungai Mahakam dan merupakan jalur arteri bagi transportasi lokal. Keadaan ini menyebabkan sebagian besar pemukiman penduduk terkonsentrasi di tepi Sungai Mahakam dan anak sungainya.

Dalam luas wilayah tersebut, katanya, dataran tinggi dan lahan kering yang sangat potensial untuk usaha pengembangan berbagai jenis budidaya komoditi perkebunan. Di lahan kering sendiri yang telah difungsikan untuk berbagai jenis komoditi perkebunan seluas mencapai 544.908 hektare (ha), dengan jumlah produksi komoditi karet Kukar 16.185 ton dengan rata-rata 6.826,5 kg/ha dengan harga jual di petani pada pengumpul Rp 7.500 per kg.

“Produk karet asalan dijual lagi ke Kalimantan Selatan, Jawa untuk diproses. Sedangkan di Kukar sendiri masih belum ada pabrik pengolahannya,” ujarnya.

Lahan potensi karet di Kukar sendiri 49.729,20 ha yang digarap petani sebanyak 3.822 kepala keluarga (KK). Sedangkan perkebunan besar swasta dan perkebunan negara, seluas 17.959,25 ha yang tersebar di 18 kecamatan.

Ditambahkan, Unit Pengelolaan hasil (UPH) yang dimiliki petani pada umumnya masih sangat sederhana, bahkkan masih ada yang pengolaannya secara tradisional sehingga yang mereka hasilkan berupa sheet asalan yang mutunya sedang atau bahkan rendah. ”Mudah-mudahhan adanya informasi peluang potensi investasi komoditi karet di Kukar akan menarik para investor yang berminat untuk berusaha di bidang budidaya perkebunan,” paparnya. (hmp15)

Teknologi Pemupukan Pada Tanaman Karet


Kamis, 15 April 2010 15:14
Karet merupakan komoditas unggulan Provinsi Jambi. Dari tahun ke tahun terjadi peningkatan luasdan jumlah petani yang berusaha pada komoditas ini. Luas perkebunan karet rakyat di Provinsi Jambi 557.042 hektar dengan produksi229.900 ton.Dari luasan tersebut 105.566 hekter merupakan tanaman belum menghasilkan (TBM), 330.820 hektar tanaman menghasilkan (TM) dan 130.656 hektar tanaman tua (TT) (Disbun Provinsi Jambi, 2005). Jumlah petani yang menggantungkan hidupnya dari usahatani tanaman karet juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tercatat pada tahun 1988 jumlah petani yang berusahatani tanaman karet sebanyak 181.074 KK (BPS Provinsi Jambi, 1999) dan pada tahun 2003 meningkat menjadi 190.133 KK (Rosyid et al., 2004).
Sumbangan devisa sektor perkebunan karet mencapai lebih dari tiga miliar per tahun dan cendrung akan meningkat pada tahun berikutnya. Salah satu komponen teknologi yang sangat berpengaruh terhadap hasil produksi karet dan telah diuji spesifik pada beberapa agroekosistem adalah pemupukan.

Kegiatan penelitian dan pengkajian pemupukan masih perlu dikaji lebih lanjut dihubungkan dengan kesesuaian agroekosistem spesifik lokasi dan pola kultur teknis pada masyarakat tani di wilayah tertentu. Demonstrasi pemupukan dilakukan pada tanaman karet rakyat yang telah menghasilkan (TM) seluas + 2 ha . Kriteria umur tanaman karet berkisar antara 6 - 10 tahun pada lahan yang belum optimal dilakukan pemupukan. Teknologi Pemupukan Pemupukan akan dilakukan dengan dosis sesuai yang dianjurkan oleh Balai Penelitian Karet Sembawa (2003) seperti yang disajikan pada Tabel 1. Frekuensi pemupukan dilakukan dua kali per tahun dengan interval waktu 6 bulan. Pupuk diberikan secara tugal melingkar batang dengan jarak 100-125 cm dari pokok batang.

Tabel 1. Aplikasi Paket Demonstrasi Teknologi Pemupukan dan Paket Petani (kontrol) yang diterapkan




Paket Teknologi


Paket Petani (kontrol)


Paket Demonstrasi




Penyiapan lahan


Manual


Olah Tanah Sempurna




Pemilihan varietas


Lokal/acak


Unggul




Pemupukan


Tidak/Minimal


-Urea 400 gr/pohon/tahun

-SP 36 350 gr/pohon/tahun

-KCl 300 gr/pohon/tahun




Penyiangan


Tidak dilakukan


2 x setahun




Pembumbunan


Tidak dilakukan


1 x setahun




Pengelolaan gulma dan bahan organik


Tidak dilakukan


Manual dengan pemberian bahan organik




Pengendalian OPT


Tidak dilakukan


PHT




Panen


Manual tidak terjadwal


Manual terjadwal




Pasca panen


Manual


Manual

Aplikasi Pemupukan Pertama

Aplikasi pemupukan pertama yang diberikan pada tanaman karet menghasilkan dilakukan dengan berpedoman pada dosis pemupukan yang dianjurkan oleh Balai Penelitian Karet Sembawa (2003), yaitu dengan dosis : Urea: 175 gram/pohon/aplikasi, SP-36 : 130 gram/pohon/aplikasi, dan KCl: 150 gram/pohon/aplikasi.
Pemupukan dilakukan dengan cara sebagai berikut :
membuat parit atau alur memanjang pada gawangan atau di tengah-tengah antara barisan tanaman,
membersihkan gulma disekitar parit/alur, pupuk ditaburkan ke dalam parit sesuai dosis dengan syarat pupuk Sp-36 dan Urea tidak boleh dicampurkan tempatnya.
Pupuk diberikan secara tugal melingkar batang dengan jarak 100-125 cm dari pokok batang, parit yang sudah ditaburi pupuk ditutup kembali dengan tanah.
Waktu pemupukan dilakukan dua kali per tahun dengan interval waktu 6 bulan, yaitu awal musim hujan (Maret - Mei) dan akhir musim hujan (Oktober - Nopember).

Pemupukan pertama sudah dilakukan pada bulan Mei tahun 2009. Kegiatan berikutnya adalah melakukan pengawasan pemeliharaan tanaman setelah dilakukan pemupukan pertama, monitoring dan peningkatan keterampilan petani yang dapat dilakukan secara informal melalui diskusi, pertemuan dan koordinasi yang diupayakan selalu dilakukan dengan kontinu dan regular.

Pemupukan tanaman karet umur 10 - 20 tahun sangat diperlukan guna peningkatan produksi. Disamping pemupukan penyiangan juga sangat diperlukan untuk menghindari supaya jangan terjadi persaingan tanaman karet dengan gulma untuk menghindari terjadi persaingan dalam penyerapan unsur hara. Penyiangan umumnya dilakukan sesuai dengan kondisi pertumbuhan gulma di lapang dan biasanya berkisar 3-4 kali dalam setahun.
Pemeliharaan tanaman yang sedang dilakukan adalah penyiangan berupa pembersihan piringan disekeliling tanaman karet yang telah dilakukan pemupukan dan pembersihan gawangan dari gulma.


Peningkatan Produktivitas Karet
Produksi karet tahunan dipengaruhi oleh musim, dimana produksi normal sekitar 8-10 bulan (MH) sedangkan produksi rendah sekitar 2-4 bulan yaitu pada waktu musim gugur, dimana produksi bias berkurang sampai 50% dari produksi normal.
Petani umumnya mampu menghasilkan 20 sampai 30 keping getah/bokar (ha/th). Dimana rata-rata berat kepingan bokar berkisar antara 40 – 60 kg.
Hasil pengamatan terhadap peningkatan produksi bokar karet pengaruh pemupukan disajikan pada Tabel 2. Terlihat bahwa terjadi peningkatan produksi bokar dengan adanya pemupukan pada tanaman karet. Terjadi peningkatan 10% pada 3 bulan setelah pemupukan, dan peningkatan 20% setelah 6 bulan.


Tabel 2. Peningkatan produksi bokar pengaruh pemupukan pada karet (TM)

Pemupukan


Produksi bokar sebelum dan setelah pemupukan (kg/ha)/bulan

Sebelum pemupukan


3 bulan


6 bulan

Tanpa dipupuk (cara petani)


200


200


200

Pemupukan sesuai Rekomendasi


200


220


240

sejarah perkebunan teh

Jenderal van de Bosch
[sunting] 1830 –1870

1830 Diulainya Sistem tanam paksa.
1833 Terdapat 1.700.000 batang pohon teh dengan hasil 16.833 pon.
1835 Hasil teh dari Nusantara mulai diangkut ke negeri Belanda sebanyak 200 peti, pertama kalinya diikutkan pelelangan teh Amsterdam.
1841 Kebun teh di seluruh Jawa baru ada kira-kira 3.000 bau (2.129 hektar).
1843 Robert Fortune, menemukan hitam dan hijau teh karena prosesnya bukan tanamannya .
1846 Kebun teh di seluruh Jawa kira-kira 4.500 bau (3.193 hektar).
1858 450 orang dikerahkan untuk penanaman kopi, 300.000 orang untuk menanam tebu, 110.000 orang menanam nila.
1832-1867 Saldo Untung (Batig slot) pemerintah Belanda mencapai 967 juta Gulden.

[sunting] 1870 -1910

1870 Awal peraturan hak Erfpacht (75 tahun), ada 15 perusahaan.
Periode Politik Kolonial Modern.
Undang-undang Gula (suikerwet), (Para petani selain harus mengerjakan penanaman juga, mengerjakan tanpa upah untuk pengangkutan, pengolahan gula di pabrik, pembuatan jalan, pembuatan saluran air dan jembatan).
1872 Import benih teh Assam, sebelumnya dari Tiongkok dan Jepang.
1875 Kebun teh rakyat terdapat di Sinagar dan Parakan; A.B.B. Crone; Biji teh cuma-cuma kepada rakyat di Cicurug dan Cibadak; Bapak perkebunan teh rakyat.
1878 Datangnya varitas thea assamica di Nusantara.
1880 Kebun Rakyat (Cibadak dan Cicurug).
1893 Luas Kebun Rakyat 300 ha.
1870-1900 Zaman Liberalisme (masuknya Modal Barat).
1900-1914 Pemerintah Hindia Belanda mencari bentuk pemerintahan yang mensejajarkan Barat dan Timur dan mendudukkan keduanya dalam satu kesatuan politik. Perubahan ini dilatarbelakangi oleh keinginan merdeka dari rakyat.
1901 Terjadi bencana hama pada tumbuhan tebu dan kopi.
1902 Thee Proefstation (balai penelitian) yang pertama di Bogor, kemudian bernaung di bawah Centrale Proefstationsvereniging (CPV).
1909 Luas Kebun Rakyat 8000 ha.

[sunting] 1910-1942

1910-1914 dan 1920-1928 Periode puncak laju pertumbuhan teh per tahun per hektar menjadi rata-rata 6.3 % dengan laju pertumbuhan penanaman yang jauh lebih tinggi.
1910-1940 Perluasan perkebunan di Selatan Priangan.
1918-1921 Depresi ekonomi, hanya pabrik-pabrik dekat Sukabumi yang disewa pemerintah bertahan melakukan pengolahan teh rakyat.
1918 Krisis perusahaan gula tahun di Hindia Belanda.
1920 Ekspor menurun sehingga perusahaan-perusahaan di Eropa mengalami kerugian dan bahkan ada yang bangkrut.
1921 Dibawah pemerintahan Gubernur Jenderal Fock mengalami krisis ekonomi; Pergantian pemerintahan ke tangan Gubernur Jenderal Fock
1922 Terjadi pemogokan pegawai pegadaian.
1923 Terjadi pemogokan pegawai kereta api.
1925 Pelaksanaan pembangunan dilakukan oleh pemerintah yang mencakup:
desentralisasi,
perubahan pemerintahan,
perbaikan kesehatan rakyat dan emigrasi,
perbaikan pertanian dan peternakan, serta
pembangunan irigasi dan lalu lintas

Menjelang PD II - Perdagangan teh memberikan keuntungan besar bagi kas negeri pemerintah kolonial (berkantor di Amsterdam dan Roterdam).-Terdapat 324 perusahaan (259 perusahaan di Jawa Barat atau 78%)

perkebunan nanas terbakar

Areal Perkebunan Nanas di Donggala Dilalap Api
Headline News / Nusantara / Minggu, 16 Agustus 2009 02:03 WIB

Metrotvnews.com, Donggala: Sepuluh hektare lahan perkebunan nanas di Perbukitan Doda Kinovaro, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Sabtu (15/8) terbakar. Menurut saksi mata, api membakar perkebunan sekitar pukul 18.30 Waktu Indonesia Tengah. Tidak diketahui penyebab kebakaran dan darimana asalnya api. Lokasi perkebunan sangat jauh dari pemukiman warga.

Petugas pemadam kebakaran kesulitan menjangkau lokasi, karena harus melalui jalan setapak dan medan yang curam. Pemilik perkebunan dan warga sekitar tidak dapat berbuat banyak, dan hanya berusaha memadamkan api sebisa mungkin. Luasnya areal perkebunan yang terbakar membuat api membumbung tinggi di kegelapan malam. Bahkan api dapat dilihat warga Kota Palu yang jaraknya cukup jauh. Belum dapat diperkirakan kerugian atas kebakaran

sejarah perkebunan teh

Jenderal van de Bosch
[sunting] 1830 –1870

1830 Diulainya Sistem tanam paksa.
1833 Terdapat 1.700.000 batang pohon teh dengan hasil 16.833 pon.
1835 Hasil teh dari Nusantara mulai diangkut ke negeri Belanda sebanyak 200 peti, pertama kalinya diikutkan pelelangan teh Amsterdam.
1841 Kebun teh di seluruh Jawa baru ada kira-kira 3.000 bau (2.129 hektar).
1843 Robert Fortune, menemukan hitam dan hijau teh karena prosesnya bukan tanamannya .
1846 Kebun teh di seluruh Jawa kira-kira 4.500 bau (3.193 hektar).
1858 450 orang dikerahkan untuk penanaman kopi, 300.000 orang untuk menanam tebu, 110.000 orang menanam nila.
1832-1867 Saldo Untung (Batig slot) pemerintah Belanda mencapai 967 juta Gulden.

[sunting] 1870 -1910

1870 Awal peraturan hak Erfpacht (75 tahun), ada 15 perusahaan.
Periode Politik Kolonial Modern.
Undang-undang Gula (suikerwet), (Para petani selain harus mengerjakan penanaman juga, mengerjakan tanpa upah untuk pengangkutan, pengolahan gula di pabrik, pembuatan jalan, pembuatan saluran air dan jembatan).
1872 Import benih teh Assam, sebelumnya dari Tiongkok dan Jepang.
1875 Kebun teh rakyat terdapat di Sinagar dan Parakan; A.B.B. Crone; Biji teh cuma-cuma kepada rakyat di Cicurug dan Cibadak; Bapak perkebunan teh rakyat.
1878 Datangnya varitas thea assamica di Nusantara.
1880 Kebun Rakyat (Cibadak dan Cicurug).
1893 Luas Kebun Rakyat 300 ha.
1870-1900 Zaman Liberalisme (masuknya Modal Barat).
1900-1914 Pemerintah Hindia Belanda mencari bentuk pemerintahan yang mensejajarkan Barat dan Timur dan mendudukkan keduanya dalam satu kesatuan politik. Perubahan ini dilatarbelakangi oleh keinginan merdeka dari rakyat.
1901 Terjadi bencana hama pada tumbuhan tebu dan kopi.
1902 Thee Proefstation (balai penelitian) yang pertama di Bogor, kemudian bernaung di bawah Centrale Proefstationsvereniging (CPV).
1909 Luas Kebun Rakyat 8000 ha.

[sunting] 1910-1942

1910-1914 dan 1920-1928 Periode puncak laju pertumbuhan teh per tahun per hektar menjadi rata-rata 6.3 % dengan laju pertumbuhan penanaman yang jauh lebih tinggi.
1910-1940 Perluasan perkebunan di Selatan Priangan.
1918-1921 Depresi ekonomi, hanya pabrik-pabrik dekat Sukabumi yang disewa pemerintah bertahan melakukan pengolahan teh rakyat.
1918 Krisis perusahaan gula tahun di Hindia Belanda.
1920 Ekspor menurun sehingga perusahaan-perusahaan di Eropa mengalami kerugian dan bahkan ada yang bangkrut.
1921 Dibawah pemerintahan Gubernur Jenderal Fock mengalami krisis ekonomi; Pergantian pemerintahan ke tangan Gubernur Jenderal Fock
1922 Terjadi pemogokan pegawai pegadaian.
1923 Terjadi pemogokan pegawai kereta api.
1925 Pelaksanaan pembangunan dilakukan oleh pemerintah yang mencakup:
desentralisasi,
perubahan pemerintahan,
perbaikan kesehatan rakyat dan emigrasi,
perbaikan pertanian dan peternakan, serta
pembangunan irigasi dan lalu lintas

Menjelang PD II - Perdagangan teh memberikan keuntungan besar bagi kas negeri pemerintah kolonial (berkantor di Amsterdam dan Roterdam).-Terdapat 324 perusahaan (259 perusahaan di Jawa Barat atau 78%)
Perkembangan pasar karet alam dalam kurun waktu tiga tahun terakhir relatif
kondusif bagi produsen, yang ditunjukan oleh tingkat harga yang relatif tinggi. Hal
tersebut dikarenakan permintaan yang terus meningkat, terutama dari China, India,
Brazil dan negara-negara yang mempunyai pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Asia-
Pasifik. Menurut IRSG, dalam studi Rubber Eco-Project (2005), diperkirakan akan
terjadi kekurangan pasokan karet alam dalam dua dekade ke depan. Karena itu pada
kurun waktu 2006-2025, diperkirakan harga karet alam akan stabil sekitar US $ 2.00/kg.
Dalam jangka pendek, pertumbuhan ekonomi global tahun 2006 dan 2007
diperkirakan masih cukup baik, hal tersebut dapat terjadi jika kenaikan harga minyak
bumi, inflasi dan kenaikan suku bunga tidak meperlambat pertumbuhan ekonomi
Amerika Serikat yang masih tetap merupakan lokomotif ekonomi dunia. Perkembangan
ekonomi global tentunya akan mempengaruhi permintaan karet alam dan selanjutnya
akan mempengaruhi harga. Konsumsi karet alam pada tahun 2005 sebesar 8.74 juta ton
(pertumbuhan 5.1%), sementara itu produksi hanya sebesar 8.68 juta ton (pertumbuhan
0.4%). Harga karet alam masih tetap mempunyai tendensi menaik pada periode
semester ke dua tahun 2006, hal tersebut dikarenakan permintaan masih lebih besar
dari penawaran dan pertumbuhan ekonomi global, terutama China, Amerika Serikat dan
Jepang masih ”firm and modest”. Jika ”investment fund” dan spekulator melakukan aksi
”profit taking” pada pasar berjangka karet alam (TOCOM), maka akan terjadi lonjakan
naik-turun harga karet alam yang relatif cukup besar.
Harga karet alam yang relatif tinggi saat ini harus dijadikan momentum bagi
Indonesia, untuk mendorong percepatan peremajaan karet yang kurang produktif
dengan menggunakan klon-klon unggul dan perbaikan teknologi budidaya lainnya.
Pengambangan agribisnis karet di Indonesia perlu dilakukan dengan cermat dengan
melalui perencanaan dan persiapan yang matang, antara lain dengan penyedian kredit
peremajaan yang layak untuk karet rakyat, penyedian bahan tanam karet klon unggul
dengan persiapan 1-1,5 tahun sebelumnya, pola kemitraan peremajaan, aspek produksi,
pengolahan dan pemasaran dengan perkebunan besar negara/swasta. Pada tingkat
kebijakan nasional perlu adanya lembaga (dewan komoditas/karet) yang membantu
pengembangan industri karet di Indonesia dalam semua aspek, mulai dari produksi,
pengolahan bahan baku, industri produk karet, serta pemasaran karet dan produk karet.
Pada tingkat implementasi perlu organisasi pelaksana yang kompeten dan aturan main
yang jelas, dalam hal ini tentunya juga terkait dengan adanya otonomi daerah dan
perlunya partsipasi/komitmen yang kuat dari petani/pekebun karet.