Pages

Subscribe:

Blogroll

Labels

Rabu, 07 Desember 2011

MEMILIH LOKASI PERKEBUNAN LADA




Seorang pengusaha, dengan sangat bersemangat melakukan investasi perkebunan lada di Jawa Timur. Skalanya memang hanya puluhan hektar, tetapi lada memerlukan tiang panjatan berupa beton, kayu ulin hingga biaya investasinya tinggi. Panjatan dari tanaman hidup seperti lamtoro, dadap atau gamal memang lebih murah. Namun kayu hidup ini akan berebut nutrisi, air dan sinar matahari dengan tanaman lada. Akibatnya hasil lada tidak optimal. Hingga panjatan yang paling pas adalah beton atau kayu ulin yang sama-sama mahal. Nilai tiang beton atau kayu ulin 10 X 10 cm sepanjang 2,5 sampai 3 m, per batang sudah sekitar Rp 30.000,- Dengan populasi 1.500 tanaman per hektar (jarak tanam 2 X 3 m), maka investasi untuk tiang panjatan sudah mencapai Rp 45.000.000,- per hektar. Benih Rp 7.500.000,- Pembukaan lahan dan penanaman sekitar Rp 2.500.000,- Hingga total biaya investasi untuk pembukaan kebun lada itu sudah mencapai Rp 55.000.000,- per hektarnya. Dengan luas lahan 20 hektar, maka nilai investasinya menjadi Rp 1,1 milyar. Pengusaha tadi kecewa barat karena ternyata tanaman ladanya tidak bisa tumbuh dengan baik.

Lada memang menghendaki kawasan dengan agroklimat khusus. Curah hujan yang diharapkannya tidak terlalu tinggi. Cukup sekitar 3.000 mm. per tahun. Bahkan agak kurang pun tidak menjadi soal. Hanya saja, hujan tersebut diharapkan turun merata sepanjang tahun. Sentra lada seperti Lampung, Sumsel, Bengkulu, Bangka, Belitung, Kalbar dan Kaltim adalah kawasan dengan agroklimat demikian. Di kawasan dengan agroklimat demikian ini, tanaman lada akan bisa tumbuh optimal. Hasilnya pun juga akan optimal pula. Curah hujan di Pulau Jawa pada umumnya, tidak berlangsung marata sepanjang tahun. Bahkan di kawasan Bogor yang dikenal sebagai "kota hujan" pun, curah hujan itu tidak merata. Di kawasan ini curah hujannya mencapai 5.000 mm. per tahun. Tetapi tetap ada musim kemaraunya. Lebih-lebih di Jawa Timur. Di sini, curah hujan yang tinggi hanya terjadi di sekitar Malang, Lumajang, Jember dan Banyuwangi. Itu pun hanya sekitar 3.000 mm. per tahun. Di sepanjang pantai utara dari Bojonegoro sampai Situbondo serta di Pacitan, Trenggalek dan Blitar selatan, curah hujannya hanya sekitar 2.000 mm. per tahun. Kemarau di kawasan ini bisa berlangsung sekitar 5 bulan lebih. Kondisi agroklimat demikian tidak cocok untuk lada.

Lada merupakan tanaman dataran rendah sampai menengah (0 sampai dengan 600 m. dpl). Lahan yang cocok untuk lada berupa tanah berpasir serta lempung yang kaya humus (bahan organik), dengan pH netral. Lada kurang cocok dikembangkan di lahan-lahan bergambut yang masam. Lahan-lahan bekas tebangan hutan atau ladang sangat cocok untuk kebun lada. Sebagai tanaman tropis, lada menghendaki air banyak, namun akarnya tidak tahan genangan. Penanaman lada pada lahan bertanah lempung, sebaiknya disertai dengan sarana drainase (pembuangan air) yang baik. Untuk mencapai pertumbuhan optimal, lada memerlukan sinar matahari penuh selama 12 jam per hari. Karenanya, penanaman lada dengan tiang panjatan berupa pohon hidup akan sangat berpengaruh terhadap hasil panen.

Selain faktor agroklimat, lokasi perkebunan lada juga harus dipilih yang berdekatan dengan sungai yang mengalir dengan debit cukup besar. Keberadaan sungai ini menjadi penting apabila kita ingin memproduksi lada putih. Bukan lada hitam. Masyarakat awam, biasanya menganggap bahwa lada putih dan lada hitam berasal dari jenis tanaman lada yang berlainan. Padahal tanaman lada (Piper nigrum) hanya satu. Tanaman asli India ini telah masuk ke kepulauan Nusantara sekitar abad I sebelum Masehi. Hingga bagi masyarakat Sumatera, Bangka dan Belitung, lada sudah dianggap sebagai tanaman asli setempat. Tanaman merambat ini berbuah buni yang berwarna hijau ketika masih mentah dan berubah menjadi kuning serta merah ketika masak. Kalau lada dipetik ketika muda (masak susu) dan langsung dijemur, maka akan didapat lada hitam. Tingkat kaharuman lada hitam lebih tinggi dibanding lada putih. Namun tingkat kepedasannya lebih rendah. Karenanya lada hitam cocok untuk digerus kasar dan ditaburkan dalam steak. Masyarakat Amerika, cenderung lebih menyukai lada hitam. Sementara masyarakat Eropa pada umumnya lebih senang dengan lada putih.

Apabila lada dipanen setelah masak dan berwarna kuning serta merah, akan diperoleh lada putih. Untuk itu, diperlukan proses perendaman dalam air yang mengalir. Caranya, lada dimasukkan ke dalam karung dan diikat, selanjutnya direndam dalam air sungai yang mengalir. Apabila perendaman dilakukan dalam air yang menggenang, maka akan timbul bau yang tidak sedap. Setelah direndam selama sekitar 1 minggu, kulit buah lada akan membusuk dan hancur. Pada saat itu biji lada diinjak-injak sambil terus diairi sampai biji lada terkupas dari kulit dan daging buahnya. Setelah bersih, biji lada tersebut dijemur sampai kering hingga dihasilkan biji lada putih. Kalau kita berkebun lada di lokasi yang tidak ada sungainya, maka yang akan kita hasilkan hanyalah lada hitam. Bukan lada putih. Pada umumnya harga lada hitam lebih murah dibanding lada putih. Petani yang cerdik, biasanya akan melakukan penjarangan buah. Buah-buah yang mutunya kurang bagus, akan dipanen muda dan langsung dijemur menjadi lada hitam. Dengan melakukan penjarangan demikian, mutu biji lada yang dipanen tua akan menjadi semakin baik.

Seperti halnya dengan cengkeh, pala dan kayu manis, lada merupakan rempah-rempah yang sudah menjadi mata dagangan penting di dunia sejak ribuan tahun silam. Pemanfaatan lada tidak hanya untuk bumbu melainkan juga parfum. Sebab biji lada selain menghasilkan rasa pedas berupa zat kavisin, juga mengandung minyak asiri serta alkaloid paparin serta piperidin. Dua zat terakhir ini merupakan bahan pembuatan heliotropin sintetis. Secara tradisional, pemanfaatan lada sebagai bumbu hanyalah dengan dihancurkan. Tetapi dalam industri makanan modern, misalnya sosis, corned dan daging asap, lada, pala, cengkeh dan lain-lain bumbu tidak digiling lalu dicampurkan begitu saja. Sebab dengan cara itu, standar rasa yang diharapkan tidak akan tercapai. Dalam industri modern, bumbu apa pun, termasuk lada digunakan dalam bentuk oleoresin. Produk ini merupakan cairan pekat. Biasanya berwarna kecokelatan. Yang lazim dibuat oleoresin adalah lada hitam. Sebab tingkat keharuman lada hitam lebih tinggi dibanding lada putih. Tetapi kalau yang diharapkan adalah rasa pedasnya, maka oleoresin dihasilkan dari lada putih.

Proses awal pembuatan minyak asiri maupun oleoresin lada sama, yakni dengan penghancuran (penggilingan) biji lada. Dalam pembuatan minyak asiri, bubuk lada itu didestilasi (disuling) hingga didapat minyak lada. Pada pembuatan oleoresin, bubuk lada itu diekstrak dengan bahan pelarut. Setelah itu, dilakukan pemisahan (pemurnian) zat aktif lada dari bahan pelarutnya. Penghasil oleoresin lada terbesar dan sekaligus terbaik di dunia adalah Perancis dan India. Di Indonesia baru tercatat beberapa perusahaan yang mampu membuat oreoresin lada. Antara lain P.T. Djasula Wangi dan Indesso. Meskipun dibanding dengan produk oleoresin lada dari India, produk lokal kita masih kalah jauh. Pemerintah Provinsi dan Kabupaten penghasil lada, mestinya mulai memikirkan sebuah agroindustri terpadu. Sementara kawasan dengan agroklimat potensial, mulai merancang sebuah agribisnis lada yang lebih serius. Kendala utama berupa tingginya biaya tiang rambatan, dewasa ini sudah bisa diatasi dengan adanya klon lada perdu. Beda dengan lada biasa, maka lada perdu akan tumbuh menyemak berupa perdu hingga tidak memerlukan tiang panjatan. Selain lebih murah biaya investasinya, pemanenan lada perdu juga lebih mudah. Sebab ketinggian lada ini hanyalah sekitar 0,5 sampai dengan 1 meter. Sementara ketinggian lada dengan tiang rambatan mencapai 2 meter.
Benih lada biasa maupun lada perdu berasal dari stek. Bahan stek bisa berupa batang pokok yang dilepas dari tiang panjatan dan dibiarkan dipermukaan tanah untuk dikerat (tidak sampai putus) sepanjang masing-masing sebanyak tujuh ruas (1 m). Keratan itu sebagian ditimbun tanah, sebagian dibiarkan di permukaan. Selang satu bulan, masing-masing stek akan menumbuhkan akar dan tunas baru. Selain itu stek juga bisa diambil dari cabang vertikal (ortotrop) yang masih melekat pada tiang panjatan. Stek cabang ortotrop yang sudah menggelantung, mutunya kurang baik. Cabang horisontal (plagiotrop) tempat keluarnya buah, tidak bisa dijadikan bahan stek. Selain stek tujuh ruas sekarang banyak juga dibuat benih dari stek satu ruas (satu daun). Benih berupa stek lazimnya disemai terlebih dahulu sebelum ditanam di polybag (kantung plastik) atau di lapangan. Dewasa ini banyak dijual benih lada dalam polybag yang sudah siap tanam. Harganya bervariasi antara Rp 2.000,- sampai dengan Rp 5.000,- tergantung ketinggian tanaman dan ukuran polybag. Biasanya para penangkar tidak memiliki stok benih dalam jumlah banyak. Hingga para calon pekebun yang memerlukan benih sampai puluhan atau ratusan ribu, harus memesan terlebih dahulu.

Tiap individu tanaman lada, memerlukan pupuk organik (pupuk kandang, kompos, guano) sekitar 10 kg per tahun. Dosis itu diberikan sebanyak 4 kali. Pupuk organik ini seringkali diganti oleh petani dengan tanah bakaran dengan dosis sama untuk menurunkan menaikkan pH tanah. Pupuk anorganiknya biasa digunakan NPK dengan dosis 0,5 kg per individu tanaman. Pemberiannya bisa bersamaan dengan pupuk organik sebanyak 4 kali dalam setahun. Penyakit lada yang paling berbahaya adalah akibat serangan nematoda pada akar dan cendawan pythoptora pada pangkal batang. Hama yang paling banyak mengganggu lada antara lain kumbang Lophobaris piperis. Kalau lokasi kebun lada beragroklimat cocok, dengan perawatan tanaman yang baik, hasil panen akan mencapai 7,5 sampai dengan 1,25 kg. lada putih kering per individu tanaman. Dengan populasi 2.000 tanaman per hektar maka hasilnya 1,5 sampai 2,5 ton per hektar per tahun. Kalau harga lada Rp 20.000,- per kg, maka pendapatan kotor petani akan berkisar antara Rp 30.000.000,- sampai dengan Rp 50.000.000,- per hektar kebun per tahun. Tetapi dalam praktek, petani sulit untuk memperoleh harga standar tersebut. Sebab rantai perdagangan lada demikian panjangnya. Bahkan selama ini eksportir kita masih sulit untuk berhubungan dengan pembeli luar negeri secara langsung. Sebab semua harus melalui Singapura. (F.R.) ***

0 komentar:

Poskan Komentar